Tuesday, 19 February 2013

[Cerpen] Entahlah

aku berlari... lari entah kemana menelusuri jalanan aspal kemudian memutar ke arah lain jalan setapak belukar. aku sedang apa ? kenapa kaki-kaki ku tidak mau berhenti untuk berlari. sekujur tubuhku panas seperti meleleh keringat pun menyeruak kemana mana. huh..

apa yang kulakukan ? tubuhku rubuh ditanah belukar sambil mengatur nafas bergantian. kaos ku sudah kumal dan basah oleh keringat dengan sedikit bercak-bercak merah. aku mengamati bercak itu seketika bangkit setengah duduk. "ini darah !!" mataku membelalak. segera kulepas kaos itu dan membuangnya jauh jauh dari hadapanku. nafasku tidak tertahankan tetap membelalak ngeri menatap kaos itu dari kejauhan semak-semak belukar. aku kembali berlari sekuat tenaga meninggalkan tempat itu.

setengan berjalan, karena tidak sanggup lagi menahan rasa letih dikaki. aku meraba sesuatu disaku celana. sebuah kotak kecil berwarna merah. kotak ini aku menatapnya lelah perlahan kubuka kaitannya. cincin berbatu biru berkilau dari dalamnya.

"hahahaha..." bodoh sekali ada cincin seperti ini menjijikan. ku lempar kotak dan cincin itu ke semak-semak jauh. wajahku menyeringai puas. hahahaha... aku memegang perutku karena tidak bisa menahan tawa yang menarik otot perutku hingga terasa nyeri dan geli.

matahari semakin redup dilangit, karena kelelahan aku berjalan sambil menatap langit itu. warnanya tetap cerah walaupun matahari akan mulai sembunyi. kupikir malah lebih indah dari pada matahari dipagi dan disiang harinya. guratan cahaya orange itu membentuk sisi cantik diawan. "aaaah" gumamku takjub. entah berapa lama aku berjalan langkahku sudah sampai disisi sungai yang tenang. hingga bisa kulihat seorang pria yang menatapku sayu. "apa kabar" sapaku kepada pria itu. pria itu tersenyum dan menjawab "baik sebaik kegelapan ini".

tubuhku tidak kuat lagi menopangnya seketika rubuh dan jatuh kedalam sungai. bunyi air menyeruak keheningan sungai itu. hangat pikirku, tubuhku mengikuti hukum gravitasi semakin jatuh kedasar bumi dan semakin gelap. gelap dan kosong.

tiba tiba guratan cahaya muncul dari permukaan. sesosok makhluk menarikku kepermukaan. tapi aku sudah tidak berdaya lagi dan membisu.

"apa itu dia" pria tua berseragam polisi bergumam datar,
 dan seorang ajudannya menjawab "benar pak, itu dia", 
"bawa dia ke ambulan sekarang !",
"dimengerti" ajudan yang lain itu memapahnya ke ambulan.

dan apa yang terjadi aku tersadar sudah diranjang berselimut putih, dan bau menyengat tercium dari mana mana. "ugghh.. ini bau khas rumah sakit. tapi tanganku tidak bisa digerakkan. aku menariknya dan "plankk" bunyi logam dan logam bersentuhan. tanganku diborgol !!

"apa kau baik-baik saja" seseorang bersuara dari balik tirai.
"siapa ?" jawabku spontan
perlahan tirai itu disingkap hingga bisa kulihat sesosok pria tua berseragam dibaliknya. tapi kumis-kumisnya yang putih tetap menunjukkan kegagahannya. spontan pria tua itu mencengkram bajuku dan menariknya dengan kasar dan berkata.
"apa yang kau lakukkan pada wanita itu. katakan padaku !!"
"bukan urusanmu !! pria tua" tatapku mengejek. sambil menyeringai kukatakan padanya 
"apa kau takut kehilangan wanita busuk itu ??" dalam sekejap mata pipi kiriku memerah dan panas. 
pria tua itu terengah-engah menatapku dengan marah tertahan. aku kembali menatapnya dengan benci "hahaha..." tawaku lepas 
"cuma segini, ini tidak lebih sakit dari apa yang telah ia lakukan padamu kan ??" pria tua itu kembali menghempaskan kemarahannya diwajahku. kali ini darah segar menetes dari bibiku. nafas pria tua itu menjadi lebih terengah-engah dan sesak diterdorong kebelakang sambil menahan dada kirinya dan merengut kesakitan. 

tiba-tiba*

"HENDRI... apa yang kau lakukan pada anakmu??" sosok wanita yang kukenal mendekati ayah yang merengut kesakitan. ayah menunjukku "anak itu.. ibilis". wanita itu menatapku dan berbalik ke ayah. 
"tidak hendri, dia itu anak mu. tolong maafkan dia. lihatlah aku tidak apa-apa semua itu adalah kesalahan ku hendri"
wanita itu mulai menangis sedu dan berucap lirih "tolong maaf anak itu dan hukumlah aku. aku mohon. ini semua salahku" 
wanita itu jatuh dan berlutut kepada ayah menahan tangis. tapi ayah memalingkan wajahnya dan menatapku yang sudah tidak karuan lagi. darah yang menetes tadi sudah meninggalkan bercak-bercaknya diselimutku. "liatlah apa yang terjadi padaku" ucap ayah lirih
"wanita yang kucintai berniat melukai anak yang juga kucintai dan sekarang malah akulah yang melukai anak dan wanita yang kucintai" langkah ayah sempoyongan mendekatiku dengan wanita itu masih tetap berlutut di kaki ayah. aku menatapnya sedih dan penuh luka.
"maafkan aku" ayah mengusap bekas amarahnya diwajahku. dan kemudian tidak sanggup menahan perih dihatinya tubuh tuanya pun jatuh kelantai. wanita itu mendekap dan memeluknya erat menangisinya. berteriak menyebut namanya dan beberapa kali memanggil staff rumah sakit diluar. telingaku berdengung hebat. dan melihat dan mendengar semuanya dalam bisu. staff-staff rumah sakit itu mendatangi ayah dan wanita itu. kejadianya yang begitu cepat. aku ingin melakukan sesuatu dan meronta-ronta tapi tanganku terikat kesalahpahaman ini. "ayah..!!" ucapku bisu.






No comments:

Post a Comment

Sharing is caring <3

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...